Sejarah Serikat Cahaya Kasih
SEJARAH SERIKAT CAHAYA KASIH
1.
Latarbelakang
Berdirinya serikat
Cahaya Kasih berawal dari pengalaman
pergumulan dalam mengelola Panti Asuhan Cahaya Kasih. Pada tanggal 1 Maret 2006
merupakan hari pendirian atau dimulainya Panti Asuhan Cahaya Kasih. Sesuai dengan tuntutan peraturan perundang-undangan negara melalui UU nomor 16 tahun 2001 tentang
Yayasan, UU nomor 28 tahun 2004 tentang
perubahan atas UU nomor 16 tentang Yayasan maka diusahakan agar panti Asuhan
Cahaya Kasih memiliki payung hukum sebuah yayasan. Maka pada tanggal 6 Pebruari
2008 berdiri Yayasan Cahaya Kasih yang
mengelola Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Pengalaman mengelola Yayasan
Cahaya Kasih, khususnya merawat anak-anak Panti Asuhan Cahaya Kasih memunculkan
permenungan antara menekuni pelayanan karya sosial atau hidup membiara. Permenungan
dan pengalaman ini melahirkan pergulatan bathin untuk memilih salah satu
diantaranya. Ada niat untuk lebih menekuni
pelayanan sosial dan melupakan panggilan hidup membiara. Namun pergumulan
tersebut terus menerus memunculkan keinginan dan dorongan yang kuat untuk hidup
membiara. Keinginan tersebut makin hari
makin menguat. Akhirnya saya (Sr. Veronika
.R Bakara, SCK ) berkonsultasi dengan Rm. Yustinus Hilman Pr sebagai
Vikjen keuskupan Bandung untuk meminta pertimbangan
sekaligus membantu memurnikan niat hiudp membiara ini. Dengan bantuan dan saran
dari Rm. Yustinus Hilman, Pr keinginan menjalani hidup membiaran semakin
dikuatkan.
Meskipun keinginan hidup membiara sangat kuat
namun belum ada niat untuk menggabungkan diri dengan serikat atau konggregasi
hidup bakti yang sudah ada. Bahkan, pengalaman iman dalam mengasuh anak-anak pada Panti Asuhan Cahaya kasih justru mendorong dan menguatkan niat untuk
mendirikan sebuah serikat yang mendedikasikan diri dalam pengasuhan anak-anak
miskin, menderita dan terlantar sesuai
dengan sabda Yesus: “…sesungguhnya segala
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina
ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40b). Panti Asuhan Cahaya
Kasih merawat dan mendidik anak-anak sebagaimana sabda Yesus: “Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi
mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan
Allah”
(Mrk 10: 14). Yesus juga bersabda: “Barangsiapa
menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut
Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian,
dialah yang terbesar” (Luk 9: 48).
Pada
tahun 2015, tepat 7 tahun setelah berdirinya Yayasan Cahaya Kasih dan setelah melalui permenungan
yang panjang tentang panggilan hidup akhirnya saya mengambil dan memutuskan
untuk ketetapan hati memulai kehidupan membiara.
Setelah berkonsultasi dengan Rm. Yustinus Hilman Pr (Vikjen Keuskupan Bandung)
akhirnya menetapkan hati untuk tidak bergabung dengan salah satu serikat atau
konggregasi hidup yang sudah ada melainkan mendirikan sebuah serikat baru yang lebih sesuai dengan
harapan dan cita-cita saya dalam mencintai dan melayani anak-anak miskin,
terlantar dan menderita. Saya merasa bahwa dengan sebuah serikat baru yang
didirikan maka pelayanan kepada anak-anak miskin, terlantar dan menderita lebih
focus dan total dijalani.
Ketika
saya menyatakan niat untuk hidup membiara kepada keluarga, ternyata mereka
tidak mendukung. Mereka menyatakan keberatan karena mereka melihat saya sudah
tepat dalam pengelola panti asuhan. Bahkan mereka lebih mendukung saya menekuni
karya mengelola yayasan dan Panti Asuhan Cahaya Kasih yang sudah ada dan
berjalan dengan baik. Namun keberatan
mereka tidak menyurutkan niat saya untuk hidup membiara bahkan dorongan untuk
hidup membiara semakin kuat saya rasakan.
Pastor paroki St. Gabriel pada tahun 2008 pernah mendorong saya untuk bergabung di beberapa biara hidup bakti suster
yang ada di Bandung atau di tempat lain.
Biara-biara ini juga memiliki dan mengelola panti asuhan. Saya
merenungkan nasihat dan anjuran pastor paroki tersebut. Namun semakin saya
merenungkan dan mencoba ber-discerment dalam mengambil keputuan semakin dorongan mendirikan serikat baru itu
semakin menguat. Bahkan saya semakin tidak tergerak hati untuk bergabung dengan biara-biara tersebut.
Saya
tetap merasa tergerak untuk mendirikan serikat baru untuk lebih fokus
mendedikasikan diri merawat dan mendidik anak-anak miskin, terlantar, dan
menderita. Dalam permenungan dan pergulatan semakin saya merasakan bahwa Tuhan
menghendaki saya melahirkan sebuah serikat baru yang mendukung niat dan
mewujudkan cita-cita tersebut. Dalam segala kelemahan yang ada saya menemukan
rencana Tuhan yang menghendaki saya memulai sebuah serikat baru yang sungguh-sungguh
mendedikasikan diri bagi pelayanan kepada anak-anak miskin, menderita dan
terlantar. Saya ingin mewujudkan niat
dan semangat bahwa para suster dalam serikat baru tersebut sungguh-sungguh
menjadi ibu yang hadir dan melayani anak-anak yang miskin, terlantar dan
menderita. Ada sebuah kerinduan akan serikat yang mendedikasikan hati dan diri
secara total bagi anak-anak miskin,
terlantar dan menderita, dan bahkan suster menjadi ibu yang penuh kasih bagi
mereka. Melalui kehadiran pelayanan para
suster dalam serikat ini maka anak-anak
merasa memperolah kasih sayang yang utuh dan total.
Dorongan
dan usaha untuk mendirikan sebuah serikat baru dengan tujuan tersebut semakin
kuat dengan hadirnya Sr. Caecilia pada tahun 2015 di Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Kami berdua sebagai awam bersama-sama melayani anak-anak di Panti Asuhan Cahaya
Kasih. Sr. Caecilia mendukung saya mendirikan sebuah serikat serta menyatakan niat
ikut bergabung dan hidup sebagai seorang
religius. Saya dan Sr. Caecilia hidup bersama dengan anak-anak,
hidup dalam doa juga dalam pelayanan terhadap anak-anak miskin, terlantar dan
menderita yang ada di di Panti Asuhan Cahaya Kasih. Dalam ketetapan hati dan
dalam doa serta permenungan setiap hari saya bersama Sr. Caecilia mencari
kehendak Tuhan bagi kami berdua. Kami
semakin merasakan bahwa Tuhan memanggil kami untuk mendirikan sebuah serikat
baru. Panggilan Tuhan itu semakin jelas dan menguat meskin kadang-kadang kami
memiliki keraguan tentang kemampuan kami untuk hidup dalam sebuah serikat baru
tersebut.
Akhirnya, dalam niat yang kuat dan
usaha yang tulus serta dukungan dari beberapa beberapa orang terdekatmaka pada
tahun 2019 saya dan Sr. Caecilia mewujudkan
niat dan memberanikan diri memulai serikat baru ini. Serikat ini kami namakan
Serikat Cahaya Kasih (disingkat SCK).
Kami berdua menjjalani hidup berkomunitas, memupuk hidup rohani sambal melayani
Yayasan dan Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Dalam tahun yang sama, Tuhan bermurah hati mengirimkan 2 (dua) orang teman
atau sebagai pengikut pertama kami yaitu yang saat ini bernama Sr. Tekla dan
Sr. Lousia. Kehadiran kedua teman ini semakin memberikan kepastian dan harapan
kepada kami tentang kehendak Tuhan terhadap Serikat Cahaya Kasih. Kami
bersama-sama menjjalani masa pembentukan secara mandiri di komunitas Serikat
Cahaya Kasih sambil selalu berkonsultasi dengan pastor Paroki St. Gabriel
Sumbersari.
Pada tanggal 19 Juni
2020 tepat pada hari raya Hati Kudus Yesus, dalam ibadat sore pertama Saya dan
Sr. Caecilia berjanji di hadapan Tuhan
untuk terus mengikuti Tuhan dalam Serikat Cahaya Kasih ini seumur hidup melalui
mengucapan kaul kekal. Dan dalam
perayaan yang sama dalam ibadat siang kedua
teman kami Sr. Tekla dan Sr. Louisa
melangkah sebagai Novis pertama Serikat Cahaya Kasih. Kami akan bersama-sama
hidup bersama sebagai suster Serikat Cahaya Kasih sambil berharap bahwa kedua
teman kami akan mengucapkan kaul kebiaraan pada waktunya setelah menjalani masa
formasi sebagai Novis Serikat Cahaya Kasih.
Serikat Cahaya
Kasih yang baru berdiri ini berada dalam pangkuan gereja Katolik. Maka tugas
kami selanjutnya adalah mengupayakan pengesahannya dari otoritas gereja, yaitu
Keuskupan Bandung sehingga Serikat Cahaya Kasih menjadi sebuah serikat yang
legal sesuai dengan peraturan dan tuntutan gereja. Kami menyadari bahwa usaha
ini tidak mudah namun kami percaya bahwa Yesus yang berbelas kasih akan selalu
menyatakan cintaNya melalui dukungan berbagai pihak khususnya melalui otoritas
gereja di keuskupan Bandung. Semoga Tuhan yang memulai karya agung ini juga
menyelenggarakan hingga akhirnya menyempurnakannya sebagaimana Dia bersabda: “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku
supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah
mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi
Aku” (Yoh 17: 23).
2.
Makna Nama
Serikat Cahaya kasih
Nama
serikat ini adalah Serikat Cahaya Kasih,
diambil dari nama Yayasan Cahaya Kasih. Nama “Cahaya Kasih” ini begitu menggema
di hati saya. Selain nama ini indah dan
manis tetapi memiliki makna terdalam, dalam merawat dan mendidik anak-anak di
Panti Asuhan Cahaya Kasih. Menjadi
sebuah harapan dan cita – cita menjadi "Cahaya Kasih", sebagaimana
sabda Yesus sendiri: “…hendaknya terangmu
bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan
memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat 5: 16). Sabda Yesus ini
dikumandangkan kembali dalam Surat Petrus: “…Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan
pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang
timur terbit bersinar di dalam hatimu” (2 Ptr 1: 19b).
Pemilihan
nama serikat “Cahaya Kasih” bermakna sebagai berikut: Cahaya Kasih berarti pancaran kasih Allah, kasih yang bersinar,
diterangi kasih, cinta dan kasih yang
bersinar seturut teladan dan kepribadian yesus yang penuh kasih. Kasih yang
selalu bersinar / bercahaya. Kasih yang tidak berpura-pura ( Roma 12:09 ).
3. Makna Lambang Serikat
Cahaya Kasih
Lambang
Serikat Cahaya Kasih adalah salib dengan gambar hati yang dihiasi
duri. Gambar hati dibuat dalam bentuk
gambar yang timbul . Maksudnya kasih itu
harus lebih diutamakan, lebih tampak
atau menonjol. Adapun maknanya
adalah:
a.
Salib adalah Lambang kemenangan melalui
pengorbanan. Hendaknya setiap anggota SCK menghayati salib sebagai pengorbanan
dalam mengikuti Kristus untuk mencapai keselamatan: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang
memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,
yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang
disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”
(Ibr 12:2).
b.
Hati adalah Hati Yesus yang penuh belas kasih. Yesus yang
rela menderita karena cinta kepada manusia,
khususnya orang kecil, yang menderita
dan terlantar (Ibr 5:1-3). Hendaknya setiap anggota SCK meneladani pengorbanan Yesus dalam hidup
berkomunitas maupun dalam karya pelayanan.
c.
Hati dililit duri bermakna bahwa pengorbanan
itu dihayati dan dihidupi dalam penderitaan bersama Kristus (Rm 8: 17b). Mencintai diwujudkan dalam pengorbanan yang
dilalui dalam penderitaan, kesakitan bahkan sampai terluka. Cinta adalah
pengorbanan. Mencintai tetap harus lebih
di utamakan meskipun harus mengalami penderitaan dan kesulitan.
d.
Serikat Cahaya Kasih adalah: Memancarkan cahaya kasih meskipun banyak
kesulitan dan penderitaan yang di alami. Anggota SCK harus melayani dengan
penuh kasih, mengabdi penuh kasih, hidup penuh kasih. Dalam segalanya didasarkan
kasih. Hanya karena kasih.
(Sejarah ini ditulis oleh: Sr. Veronika R. Bakara, SCK)
Comments
Post a Comment